Kamis, 27 Agustus 2009

Pelecehan yang berkepanjangan oleh Malaysia Terhadap Indonesia

Pelecehan yang berkelanjutan terus di lakukan oleh negara yang menjadi tetangga dekat dan bangsa serumpun yang memperlihatkan keangkuhannya terhadap negri ini dari dulu hingga sekarang. Pengakuisisian terhadap teritori negara yang semena-mena, penyiksaan terhadap warga Indonesia baik TKI & TKW maupun pendatang, pencurian terhadap Budaya-budaya Indonesia yang telah jelas-jelas dimiliki oleh bangsa kita selama ini, penganiayaan sekaligus merupakan pelanggaran HAM terhadap Donald Pieter Luther Colopita (wasit nasional karateka indonesia)yang dilakukan oleh oknum polisi negara tersebut, perekrutan ilegal kepada masyrakat Indonesia yang bertempat tinggal di perbatasan Indonesia-Malaysia sebagai penjaga keamanan negara mereka, hingga pelecehan terhadap lagu kebangsaan Indonesia Raya!!! Dikutip dari sebuah redaksi yang juga prihatin, sakit hati dan kecewa akan permasalahan ini...

http://www.topix.com/forum/world/malaysia/TMT05HCATPI1KK77V

http://www.wawasandigital.com/index.php?option=com_content&task=view&id=19989&Itemid=62

BARU-BARU ini, Malaysia kembali melecehkan bangsa Indonesia. Negeri jiran itu seakan tak pernah jera berperilaku angkuh, sewenang-wenang, memicu percekcokan, serta memancing emosi dan amarah bangsa Indonesia. Selalu saja ada kasus dan benih permusuhan yang membuat hubungan antara Indonesia dan Malaysia memanas dan mengalami keretakan.

Betapa tidak, selama setahun terakhir saja, hubungan Indonesia-Malaysia kerap memanas. Mulai dari mencuatnya kasus penganiayaan wasit karate Indonesia oleh oknum polisi Diraja Malaysia, kasus razia sewenang- wenang disertai penganiayaan yang dilakukan Milisi Sipil Malaysia (RELA) terhadap warga negara Indonesia (WNI), kasus alat sadap yang melibatkan intelejen Malaysia, hingga klaim Malaysia atas lagu ’’Rasa Sayange” dan kesenian Reog Ponorogo yang notabene keduanya adalah budaya asli milik bangsa Indonesia.

Mutakhir, kabar tentang adanya rekrutmen ratusan WNI yang tinggal di wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia yang dijadikan pasukan paramiliter Malaysia (Askar Wataniyah) guna mengamankan daerah perbatasannya, kian memperpanas hubungan Indonesia- Malaysia. Belum lagi berbagai kasus penganiayaan atas TKI kita di Malaysia yang terjadi berulang-ulang, bahkan kian marak.

Terkait beragam pelecehan yang sering dilakukan oleh negeri jiran itu, sebenarnya banyak pihak di dalam negeri telah menuntut dan mendesak agar pemerintah Indonesia tanpa raguragu memutuskan hubungan diplomatik dengan pemerintah Malaysia. Langkah ini dimaksudkan untuk memberi efek jera kepada Malaysia.

Berbagai aksi demo digelar memprotes polah tingkah pemerintah Malaysia- berikut warganya-yang terlalu sering melecehkan harkat dan martabat warga-bangsa Indonesia. Namun ironisnya, pemerintah kita selalu saja adem ayem dan memilih menempuh ’’jalan damai” dengan bermaafmaafan.

Inferior
Tak dimungkiri, beragam fakta ngenes nan ironis terkait hubungan Indonesia dan Malaysia ini senyatanya telah menyentuh rasa emosional kita sebagai sebuah bangsa yang notabene memiliki harkat dan martabat sebagaimana halnya negara-negara lain di dunia.

Celakanya, terhadap berbagai perilaku angkuh dan sewenang-wenang yang telah dilakukan oleh negeri jiran itu yang lebih merupakan bentuk pelecehan terhadap martabat bangsa Indonesia lagi-lagi, yang bisa diperbuat oleh bangsa sebesar Indonesia hanyalah ’’memendam emosi”. Sebuah perilaku yang menjadi ciri khas dari bangsa yang amat ’’inferior” (rendah diri)!

Ya, setelah mencermati-reflektif kondisi bangsa ini dari hari ke hari, rasa ngenes dan prihatin serasa kian membuncah dalam dada. Pasalnya, kian hari bangsa ini serasa menjadi bangsa yang kian inferior saja. Bangsa ini seperti tak berdaya dan tak ada apaapanya ketika berhadapan dengan bangsa lain, termasuk kepada Malaysia.

Kesalahan kolektif
Jika dilihat dari perspektif anomali eksistensi sebuah bangsa, kasus pelecehan terhadap martabat bangsa-seperti yang telah dilakukan Malaysiaseharusnya bisa menjadi otokritik dan atau sarana introspeksi bagi bangsa Indonesia, betapa bangsa ini memang amat tak berdaya ketika harus berhadapan dengan bangsa lain.

Harus diakui pula, bahwa semua ini adalah buah dari ’’kesalahan kolektif” yang telah dilakukan (masyarakat) bangsa Indonesia sendiri. Pasalnya, selama ini, bangsa Indonesia terkesan selalu enjoy dengan kondisi dan predikatnya sebagai bangsa inferior, bahkan dengan tingkat inferioritas yang amat kompleks dan parah sekalipun!

Hal ini kian diperparah dengan beragam kondisi, perilaku, dan kebiasaan-kebiasaan buruk yang sering dilakukan oleh warga bangsa ini terutama para elit politiknya. Lihat saja, ketika rakyat miskin-marginal di negeri ini setiap hari menjerit dan harus berdarah-darah untuk sekadar mempertahankan hidup, elit politik, pejabat, dan oknum birokrat-pemerintahan di negeri ini dengan pede-nya malah mempertontonkan beragam aksi ’’pertelingkahan” yang membuat hati rakyat kian terluka.

Di atas pentas, para politisi malah riuh-rendah membicarakan masalah power sharing (berbagi kekuasaan), profit sharing (berbagi laba), production sharing (berbagi usaha), dengan melupakan food sharing (berbagi makanan), opportunity sharing (berbagi kesempatan), serta wealth sharing (berbagi kemakmuran). Ironisnya, terhadap semua aksi telah mereka lakukan itu, para politisi kita selalu saja merasa ’’benar”, meski jelas-jelas berada di jalan yang sesat.

Wajar saja, jika kemudian realitas di tingkat ’’akar rumput” menunjukkan adanya akselerasi emosi rakyat yang membuncah dan teramat besar. Faktanya, negeri ini kian hari kian sarat dengan keberingasan. Banalisme kekerasan dan anarkisme massa menjamur di berbagai pelosok negeri. Pun, berbagai aksi demo rakyat menuntut keadilan (di segala bidang), terjadi hampir setiap hari.

Dengan beragam kebiasaan buruk yang diperbuat oleh kebanyakan warga bangsa ini, menjadi sebuah kewajaran jika kemudian dalam menghadapi berbagai tekanan, kesewenangwenangan, dan pelecehan yang dilakukan oleh negara lain, bangsa kita selalu ’’kehilangan” nyali. Bangsa ini selalu merasa tak mampu, tak yakin, dan tidak ada apa-apanya dibanding negara lain, hingga terpaksa membiarkan apa pun yang mereka lakukan, bahkan selalu menuruti apa pun yang mereka minta.

Sikap tegas
Galibnya, jika bangsa ini masih memiliki niat untuk bisa melepaskan atribut ketidakberdayaan dan keinferior- annya itu, maka sejak sekarang bangsa ini harus mendidik dirinya untuk bisa maju, moncer, dan digdaya seperti halnya Malaysia, Jepang, Singapura, Korea, China, India, dan yang lainnya. Maju dalam hal pendidikan, ilmu pengetahuan dan teknologi, kesehatan, serta pertahanan.

Lebih dari itu, bangsa Indonesia harus berani bersikap tegas terhadap perilaku bangsa lain yang notabene merendahkan martabat bangsa. Jangan hanya memendam emosi dan teriak-teriak di belakang. Dengan begitu, ketika suatu saat harus berhadapan dengan negara-negara lain di dunia ini, kepala kita tetap bisa tegak dan tengadah, karena kita memang juga punya hak untuk tetap dihargai sebagai bangsa yang bermartabat.

Tidak ada komentar: